Senin, 30 November 2015

Bandara Mutiara Palu Bisa Didarati Pesawat Besar

Bandara Mutiara Palu
Bandara Mutiara
Bandara Mutiara Sis Al Jufrie Kota Palu pada tahun 2016 mendatang akan mampu didarati oleh pesawat-pesawat berbadan lebar. Hal ini sebagai antisipasi semakin meningkatnya pertumbuhan penumpang jasa transportasi udara di bandara yang terletak di provinsi Sulawesi Tengah tersebut.

Dikutip dari runway-aviation.com, Kepala Bandara Mutiara Benyamin Noach Apituley mengungkapkan, tahun depan ditargetkan Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu bisa didarati pesawat-pesawat komersil berbadan lebar.

Saat ini pihak Bandara Mutiara Palu sedang melakukan proses perpanjangan landasan pacu dari sebelumnya 2.250 meter menjadi 2.500 meter sehingga pesawat komersil dapat lepas landas dan mendarat dengan beban maksimum di bandara tersebut.

Semakin banyak maskapai penerbangan membuka rute ke Palu, maka akan semakin menguntungkan bagi pemerintah dan masyarakat di Sulawesi Tengah. Terutama dengan adanya kebijakan pemerintah soal bebas visa bagi 94 negara di dunia.

Kebijakan tersebut dipastikan membawa dampak positif terhadap peningkatan kemajuan ekonomi masyarakat terutama di provinsi Sulawesi Tengah. Sebelumnya arus penumpang di Bandara Mutiara Palu berkisar 800 orang per hari, namun saat ini telah mencapai 1.500 orang per hari.

Minggu, 29 November 2015

Garuda Indonesia Masih Negosiasi Dengan Airbus dan Boeing

Garuda Indonesia Airbus A350
Garuda IndonesiaMaskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia telah menandatangani Letter of Intent (LoI), terkait dengan pengadaan 30 pesawat widebody Airbus A350-900. Penandatanganan tersebut dilakukan di pameran dirgantara Paris Airshow 2015 pada pertengahan tahun ini. Garuda Indonesia juga menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Boeing untuk pengadaan 30 pesawat Boeing 787-9 Dreamliner. Pesawat manakah yang akan dipilih Garuda Indonesia?

Dikutip dari indo-aviation.com, Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo mengungkapkan, saat ini pihaknya masih terus melakukan negosiasi dengan Airbus dan Boeing. Kemungkinan keputusan baru akan keluar pada bulan Desember mendatang. Keputusan akan diambil setelah Garuda Indonesia menyelesaikan susunan rencana armada (fleet plan) hingga tahun 2025.

Garuda Indonesia rencananya hanya akan memilih salah satu diantara Airbus A350-900 atau Boeing 787-9 Dreamliner. Di masa yang akan datang, pesawat-pesawat baru tersebut akan digunakan oleh Garuda Indonesia untuk menggantikan pesawat-pesawat Airbus A330 yang kini masih menjadi armada perusahaan penerbangan plat merah tersebut.

Sabtu, 28 November 2015

Indonesia AirAsia X Akan Buka Penerbangan Langsung Ke India

Indonesia AirAsia X Terbang Ke India
Indonesia AirAsia XMaskapai penerbangan Low Cost Carrier Indonesia AirAsia X akan meluncurkan layanan penerbangan langsung yang menghubungkan antara Indonesia dan India. Pembukaan rute penerbangan langsung dari Indonesia ke India diharapkan bisa meraih keuntungan dari terus tumbuhnya permintaan perjalanan udara antara kedua negara.

Dikutip dari indo-aviation.com, mengenai rencana pembukaan penerbangan langsung ke India oleh Indonesia AirAsia X ini diberitakan oleh media India, BW Businessworld. Menurut BW Businessworld, Indonesia AirAsia X sedang mengajukan izin kepada otoritas penerbangan sipil India untuk mengoperasikan penerbangan menuju Mumbai dari Jakarta atau Denpasar.

Pembukaan penerbangan langsung antara Indonesia dan India oleh maskapai penerbangan yang juga afiliasi dari AirAsia X tersebut pada tahun depan akan memberikan keuntungan bagi Indonesia karena bisa menarik minat lebih banyak lagi wisatawan asal India untuk berkunjung ke Indonesia.

Saat ini Indonesia AirAsia X beroperasi dengan menggunakan armada pesawat Airbus A330-300 yang dikonfigurasi dalam dua kelas, yaitu 12 kursi kelas premium dan 365 kursi kelas ekonomi. Maskapai yang baru beroperasi mulai awal 2015 itu kini telah melayani penerbangan dari Denpasar menuju Melbourne dan Sydney.

Jumat, 27 November 2015

Lion Air Akan Buka Tiga Rute Baru Menuju Biak

Lion Air Terbang Ke Biak
Lion AirMaskapai penerbangan berbiaya rendah Lion Air akan membuka tiga rute penerbangan baru menuju Biak. Tiga rute penerbangan baru itu diantaranya Makassar-Biak, Jakarta-Biak transit Makassar, dan Surabaya-Biak transit Makassar. Maskapai penerbangan yang identik dengan logo singa merah tersebut akan membuka tiga rute penerbangan baru tersebut menuju Biak mulai 9 Desember 2015.

Dikutip dari indo-aviation.com, Presiden Direktur Lion Group Edward Sirait mengungkapkan, pembukaan rute penerbangan baru menuju Biak merupakan bentuk komitmen Lion Group untuk memudahkan masyarakat mendapatkan transportasi udara. Penambahan pembukaan rute penerbangan lainnya juga merupakan sebagai bentuk komitmen Lion untuk terus melakukan ekspansi guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Selain itu, pada tanggal yang sama 9 Desember 2015, Wings Air juga meluncurkan dua rute penerbangan baru di Sumatera, yaitu Jambi-Palembang dan Jambi-Pekanbaru. Sementara itu, Batik Air yang bergerak pada penerbangan full service akan membuka rute penerbangan Halim-Banda Aceh dan Medan-Banda Aceh pada 30 November 2015, disusul dengan pembukaan penerbangan Batam-Banda Aceh oleh Lion Air mulai 1 Desember 2015.

Kamis, 26 November 2015

Lion Air Akan Buka Rute Batam-Banda Aceh

Lion Air Terbang Ke Banda Aceh
Lion AirMaskapai penerbangan yang identik dengan logo singa merah, Lion Air, akan membuka rute penerbangan baru yang menghubungkan Bandara Hang Nadim Batam dan Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Pembukaan rute penerbangan baru Batam-Banda Aceh tersebut dilakukan mulai 1 Desember 2015.

Dikutip dari indo-aviation.com, penerbangan Batam-Banda Aceh akan dioperasikan sebanyak satu kali sehari menggunakan pesawat Boeing 737-900ER berkapasitas 215 kursi kelas ekonomi. Lion Air menjadi satu-satunya maskapai yang mengoperasikan rute Batam-Banda Aceh karena selama ini belum ada maskapai penerbangan lain yang melayaninya.

Penerbangan JT810 akan diberangkatkan dari Bandara Hang Nadim Batam setiap hari pukul 11.00 WIB dan mendarat di Banda Aceh pukul 12.45 WIB, sedangkan penerbangan JT811 berangkat dari Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh pada pukul 13.30 WIB dan tiba kembali di Batam pada pukul 15.15 WIB.

Lion Air memberikan tarif harga tiket mulai dari Rp 534.900 untuk penerbangan yang berdurasi 1 jam 45 menit tersebut. Dengan dibukanya rute penerbangan Batam-Banda Aceh diharapkan bisa meningkatkan kegiatan perekonomian dan pariwisata bagi kedua kota tersebut.

Rabu, 25 November 2015

Regulasi Ini Justru Bebani Industri Penerbangan

Regulasi Penerbangan
RegulasiAsosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menyatakan ada dua regulasi penerbangan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan justru merugikan dan membebani industri penerbangan di Indonesia, khususnya bagi maskapai penerbangan dengan skala menengah ke bawah. Dua regulasi yang dimaksud yakni kepemilikan modal yang disetor dan batasan usia pesawat.

Dikutip dari indo-aviation.com, Ketua Penerbangan Berjadwal INACA Bayu Sutanto mengungkapkan, regulasi tersebut seharusnya tidak diterbitkan karena tidak tercantum dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Oleh sebab itu, INACA melayangkan surat keberatan atas dua regulasi tersebut kepada Kementerian Perhubungan. Regulasi tersebut sangat memberatkan bagi maskapai penerbangan menengah ke bawah.

Dua regulasi yang sudah dibuat oleh Kementerian Perhubungan itu sebaiknya direvisi. Kementerian Perhubungan dinilai terlalu terburu-buru dalam menerapkan regulasi tersebut, selain itu regulasi yang diterapkan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat keselamatan di industri penerbangan. Untuk modal disetor sebenarnya Kementerian Perhubungan juga bisa melihat perkembangan usaha dari laporan keuangan yang disampaikan oleh maskapai penerbangan secara berkala.

Mengenai usia pesawat pada kenyataannya lebih banyak menyangkut terhadap pelayanan penerbangan, bukan keselamatan penerbangan. Dengan perawatan yang baik, pesawat tua pun masih bisa beroperasi secara maksimal tanpa mengurangi tingkat keselamatan. Sebaiknya pemerintah melihat kondisi ekonomi dan industri saat ini, karena aturan tersebut berpotensi menyebabkan maskapai konsolidasi atau tutup.

Minggu, 22 November 2015

Ini Sanksi Untuk Maskapai Penerbangan Dengan Pelayanan Buruk

Sanksi Untuk Maskapai Penerbangan
SanksiKementerian Perhubungan akan memberikan sanksi bagi maskapai penerbangan dengan rapor buruk dalam hal ini pelayanan yang buruk. Mekanisme sanksi juga sudah ada berdasarkan penilaian dari pelayanan masing-masing maskapai penerbangan.

Dikutip dari bisnis.tempo.co, Juru bicara Kementerian Perhubungan, Julius Barata mengungkapkan, pihaknya akan terus memantau pelayanan yang diberikan setiap maskapai penerbangan. Nanti akan dievaluasi, lalu ada rapor untuk masing-masing maskapai.

Sanksinya tidak langsung berupa pencabutan izin penerbangan. Bila hasil evaluasi rapor buruk, maskapai penerbangan akan dilarang mengembangkan usaha. Misalnya maskapai tersebut dilarang menambah pesawat atau rute baru. Mereka harus memperbaiki dulu pelayanannya.

Sebenarnya sanksi itu yang paling kuat dan ampuh justru dari masyarakat atau pengguna jasa transportasi udara sendiri. Jika pelayanannya buruk, tentu saja masyarakat tidak mau menggunakan jasa maskapai penerbangan itu lagi.

Mengenai masalah penundaan penerbangan atau delay, hal itu sudah ada aturannya. Kementerian Perhubungan akan melihat apakah maskapai penerbangan terkait memenuhi kewajiban-kewajibannya atau tidak. Misalnya memberi kompensasi jika terjadi delay.

Kementerian Perhubungan tidak bisa hanya menilai dari sering tidaknya maskapai tersebut melakukan penundaan penerbangan. Hal ini dikarenakan penundaan penerbangan atau delay banyak faktornya. Masalah pelayanan maskapai penerbangan sering dipertanyakan sejak seringnya terjadi masalah pada maskapai Lion Air.

Baru-baru ini Lion Air dilaporkan penumpangnya yang mengaku mendengar suara desahan dari kabin pilot lewat pengeras suara. Setelah itu, pesawat Lion Air dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Makassar mengalami delay berjam-jam. Hal ini membuat penumpang geram dan menghadang pesawat.