Jumat, 21 Maret 2014

Begitu Memprihatinkan Tempat Lahir Bung Karno di Surabaya


Surabaya - Keluarga pemilik rumah yang menjadi tempat tinggal presiden Sukarno mengeluh minimnya perhatian dari pemerintah. Sang pemilik rumah, Jamilah, berharap ada simpati dari pemerintah untuk ikut melestarikan rumah bersejarah di Jalan Pandean IV Nomor 40, Surabaya, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, itu. "Kami minta ada pengertian dan simpati dari pemerintah, juga masyarakat," kata Jamilah kepada Tempo, Senin, 17 Maret 2014.

Sejak pemasangan prasasti sebagai penanda bahwa Sukarno lahir di Surabaya pada Juni 2011 lalu, rumah yang menjadi tempat tinggal sehari-hari keluarga Jamilah di RT 4 RW 13 itu memang banyak dikunjungi berbagai kalangan masyarakat. Namun justru merepotkan keluarga Jamilah. "Banyak yang datang berkunjung, lalu pulang ditinggal begitu saja. Ya, kami yang membersihkan, merawat rumah," ujar Jamilah.

Kakak Jamilah, Samsul Arifin, mengatakan keluarganya tidak keberatan jika rumah yang mereka tempati dijadikan monumen bersejarah. Namun perlu ada pengakuan dan perhatian langsung dari keluarga Bung Karno. Selama ini perhatian itu nyaris tidak ada. Biaya perawatan dan kebersihan rumah ditanggung keluarga Jamilah.

Karena itu, Jamilah maupun Samsul berharap kedatangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang juga putri Bung Karno, bisa memberikan kepastian soal rumah tersebut. "Selama ini enggak pernah ada kunjungan (dari keluarga Bung Karno). Ya, baru kali ini dikunjungi Bu Mega," ucap Samsul.

Selama ini Bung Karno dinyatakan lahir di Blitar pada 6 Juni 1901. Namun, berdasarkan penelusuran sejarah dan buku literatur sebelum 1965, Soekarno lahir di Surabaya, yakni di rumah yang ditempati keluarga Jamilah itu.

Bangunan rumah itu dibiarkan seperti aslinya. Rumah seluas 5 x 14 meter itu sangat sederhana dengan lantai model kuno. Di dinding ruang tamu terdapat foto sang Proklamator. Di atas pintu masuk sebuah spanduk terpasang untuk menegaskan bahwa di rumah itulah Sukarno dilahirkan.

Minimnya perhatian pemerintah juga diakui Ketua RW 13 Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Muzaki. Sering kali agenda yang berkaitan dengan tempat bersejarah di lingkungan Peneleh hanya bersifat seremonial. "Hanya seremonial dan selesai waktu. Enggak pernah melibatkan warga sekitar," tutur Muzaki.

Atas dasar itu, warga menginginkan Pandean dijadikan sebagai Kampoeng Bung Karno. Dengan demikian, kampung ini bisa menjadi aset wisata yang memberdayakan masyarakat sekitar. Dukungan dan perhatian dari pemerintah pun sangat diharapkan warga.

Rencana pemerintah untuk menetapkan rumah Pandean sebagai monumen bersejarah hingga kini belum terwujud. "Padahal ini tempat lahirnya Sukarno, hanya ada satu-satunya di dunia," kata Muzaki.

Sumber : TEMPO.CO

0 komentar:

Posting Komentar